Tampilkan postingan dengan label just - story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label just - story. Tampilkan semua postingan

KULIAH SENI? mengapa tidak…


Berbicara mengenai seni, mengusik kita untuk mengetahui lebih jauh mengenai dunia pendidikan yang berkonsentrasi dalam hal seni. Apakah senua orang yang menyukai seni akan mengambil kuliah seni pada akhirnya? Saat ini, tidak sedikit universitas yang menyediakan pendidikan seni bagi para mahasiswanya, baik yang berstatus negeri maupun swasta.

Suatu ketika dalam perbincangan melalui messengers, saya bertanya kepada Zilva (19), salah seorang teman saya sejak kecil yang sangat menggilai musik. Teringat bahwa saya memiliki blog seni yang harus diisi tulisan, maka perbincangan kami yang tadinya seputar kegiatan pribadi kami, saya ubah menjadi seputar kegiatan musiknya. Melalui perbincangan itu, dia membeberkan bahwa hingga saat ini dia masih menggeluti dunia musik yang mulai ia tekuni sejak kelas 5 SD.

Menurut Zilva, musik adalah pelarian, sarana untuknya untuk menghilangkan penaat ataupun bosan akan rutinitasnya sebagai mahasiswa jurusan Perminyakan-ITB. Piano, alat musik yang sudah dipelajarinya sejak SD itu juga menjadikannya sebagai salah seorang guru di sekolah musik ternama di Bandung. Meskipun sangat menyukai musik, Zilva merasa cukup mempelajarinya di pendidikan non-formal.

Itulah Zilva, yang rasa cintanya terhadap seni tidak membuatnya memutuskan untuk mengambil kuliah seni. Berbeda dengan Zilva dan beberapa orang yang tidak mengambil sekolah seni untuk menyalurkan bakat seninya, beberapa orang seperti Mario dan Fajar, mengambil kuliah seni untuk menyalurkan bakat seni yang mereka miliki.

Mario (21), adalah mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual, Institut Kesenian Jakarta (DKV IKJ), angkatan 2006. Kecintaannya menggambar sejak kelas 2 SMP mengantarkannya menjadi mahasiswa perguruan tinggi yang tersohor menghasilkan seniman-seniman berbakat. Menurut Mario, kecintaannya dalam menggambar membuatnya membulatkan tekad untuk melanjutkan kuliah di bidang seni. Dengan kesungguhannya, akhirnya dia berhasil menjadi mahasiswa DKV IKJ.

Sama halnya dengan Mario yang memilih kuliah seni, Fajar (20), juga memutuskan untuk secara serius menggeluti kesukaannya terhadap seni musik dengan menjadi mahasiswa jurusan Seni Musik salah satu universitas negeri di Bandung. Beruntung, Fajar didukung kedua orangtuanya untuk menempuh kuliah seni. Hobi bermain musik yang sudah digelutinya sejak SMP dapat tersalurkan melalui pendidikan formal yang diperolehnya dari kampus. Dan dengan kuliah di jurusan musik itu, wawasannya tentang seni musik bertambah luas.

Menempuh kuliah, apa pun itu, merupakan pilihan dengan pertimbangan tertentu bagi setiap orang. Beberapa orang mungkin menganggap kuliah seni belum terlalu penting karena seni dapat kita peroleh melalui pendidikan non-formal. Namun, bagi mereka yang benar-benar menyukai seni, menempuh pendidikan formal di bidang seni adalah pilihan yang sangat tepat.

Jadi, buat kamu yang menyukai seni dan ingin menempuh kuliah formal di bidang seni, KENAPA TIDAK.

Let’s Go, reach your dream




MEREKA YANG MENCOBA BERTAHAN DI TENGAH SENI KONTEMPORER


Sedikit renungan bagi kita, kaum muda yang mencintai seni kontemporer.

Beberapa hari yang lalu, ketika saya dan dua teman saya hendak pulang dari kampus, di gerbang depan kampus kami terlihat seorang kakek dengan dandanan tradisional tengah menari-nari kecil sambil mengapit kuda mainan diantara kedua kakinya. Dengan iringan musik tradisional yang sudah “sember”, sang kakek menari mengikuti irama. Salah satu teman saya yang berasal dari Jakarta berkata, “itu seni tradisional Sunda ya?”
“Ya, itu Kuda Renggong,” jawab teman saya yang satunya.
“Bukan tau, itu Kuda Lumping, kan kudanya boongan,” sanggah saya.
“Oh iya, Kuda Lumping,” timpal teman saya yang tadi menjawab salah.
Kami yang menjawab pertanyaan tadi sama-sama berasal dari Sunda, setidaknya kami besar di lingkungan Sunda. Namun, ketika saya mendengar jawaban salah dari teman saya itu, rasa prihatin tmbul. Memang benar, sekarang kita telah lupa dengan seni tradisional.

Kisah tadi hanyalah sepenggal realitas sehari-hari yang sangat mungkin terjadi di mana saja. Keberadaan seni tradisional saat ini memang jarang terjamah masyarakat muda, terkecuali mereka yang menggeluti seni tradisional dengan serius (melalui pendidikan formal mauun non formal). Tidak dapat dipungkiri, seni kontemporer yang terus menggempur, membuat kita lebih tertarik mengetahui seni baru yang lebih modern daripada menggeluti seni tradisional yang sebenarnya merupakan jati diri kita.

Lantas, seperti apakah sebenarnya potret kesenian tradisional saat ini? Bagaimanakah cara mereka bertahan di tengah maraknya seni kontemporer saat ini? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, tim art.Mosphere mendatangi salah satu sanggar seni yang berada di kawasan Jatinangor-Sumedang-Jawa Barat.

Supriatna, pensiunan guru yang sejak tahun 80-an sudah menggeluti dunia seni tradisional adalah sosok yang saat ini memimpin sanggar sederhana bernama Motekar (kreatif, dalam bahasa Sunda) yang terletak di Sayang-Jatinangor. Sejak diresmikan tahun 2002, atas usul anaknya, Nila yang juga berprofesi sebagai guru, hingga saat ini Sanggar Motekar tetap berusaha berdiri untuk mewariskan peninggalan leluhur. Pewarisan tersebut diakukan dalam bentuk tarian, seni teater, nyanyian, sastra, seni bela diri, dan permainan alat musik. Dimana kesemuanya itu mengusung nafas seni tradisional Sunda yang sangat kental.



Supriatna mengakui, saat ini seni tradisional sudah jarang ditemui di masyarakat kita. Sebuah ironi memang. Di tengah arus globalisasi yang menuntut kita untuk memperlihatkan jati diri bangsa, kebudayaan dan seni tradisional secara perlahan mulai luntur, terkalahkan oleh budaya baru. Sebagai orang yang sangat mencintai budaya warisan leluhur, Supriatna dan keluarga, berusaha membangun sanggar seni yang mewadahi siapa saja yang ingin mempelajari seni dan budaya tradisional, dalam hal ini seni dan budaya Sunda.

Kegiatan-kegiatan yang ada di sanggar itu kebanyakan diikuti oleh anak sekolah. Mereka yang masih bersekolah di SD hingga beberapa yang merupakan siswa SMA kerap berlatih kesenian tradisional di Sanggar Motekar. Menurut Supriatna, sanggar tersebut memang lebih mengkonsentrasikan anak-anak sebagai peserta karena dia yakin, hanya dengan pewarisan lah budaya tradisional yang diwariskan leluhurnya akan terus berkembang.

Supriatna menyatakan keprihatinannya terhadap keberadaan seni tradisional yang terus mengalami kemunduran. Menurutnya, seni tradisional harus diperkenalkan kepada anak sejak dini, agar mereka mengenal dan mencintai budaya lokal. Dengan alasan itulah ia terus mempertahankan keberadaan Sanggar Motekar hingga saat ini untuk guna mewariskan seni dan budaya tradisional kepada generasi penerusnya.

Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Supriatna dan beberapa staf sanggar Motekar akan terus mewariskan seni tradisional yang mereka miliki kepada anak-anak, dengan harapan suatu hari nanti satu di antara mereka akan menjadi penerus, menjadi orang yang kembali mewariskan kebudayaaan itu ke generasi selanjutnya.

Begitu pun kakek penari Kuda Lumping yang ada di depan gerbang Kampus Unpad-Jatinangor. Dengan tariannya yang sederhana, ia mencoba memperlihatkan kepada kita yang muda bahwa masih ada budaya tradisional yang harus kita apresiasi.

Kedua tokoh seni ini berusaha menjaga kelestarian nilai-nilai tradisional dengan cara mereka masing-masing agar budaya tradisional tidak cepat punah atau tergeser dengan budaya kontemporer. Sikap yang perlu kita contoh, bahwa kita sebagai generasi muda harus mampu terbuka dengan budaya baru, tapi tidak lupa akan akar kita, seni dan budaya yang lahir di tanah kita sendiri.


 

Copyright © 2009 art.Mosphere Designed by csstemplatesmarket

Converted to Blogger by BloggerThemes.Net